Analisis Konsentrasi Spasial Industri Di Jawa Tengah KOmparasi Indikator

Pembangunan ekonomi pada periode ini lebih banyak ditekankan pada pembangunan ekonomi regional kabupaten/kota. Karena diharapkan pembangunan pada kabupaten/kota. Karena diharapkan pembangunan pembangunan pada kabupaten/kota akan memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional. Konsentrasi aktifitas ekonomi secara spasial menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses yang selektif dan hanya terjadi pada kasus tertentu bila dipandang dari segi geografis. Indonesia, merupakan Negara yang sector industri manufakturnya terkonsentrasi pada wilayah – wilayah tertentu. Terkonsentrasinya aktivitas industry manufaktur tersebut mempunyai dampak positif terhadap industry dan juga mempunyai dampak negative, untuk itu perlu dianalisis factor-faktor yang mempengaruhinya.

Konsentrasi spasial menurut penelitian terdahulu dan menurut teori-teori regional dapat di ukur dengan menggunakan indicator- indikator antara lain :

1. Persebaran tenaga kerja, hal ini dikemukakan oleh Zainal Arifin & Mudrajad Kuncoro (2002) dalam penelitiannya yang berjudul “Konsentrasi Spasial dan Dinamika Pertumbuhan Industri Manufaktur Di Jawa Timur.”

2. Location Quotient (LQ), dikemukakan oleh Mudrajad Kuncoro (200) dimana LQ merupakan indicator dalam mengukur besarnya angka spesialisasi sector suatu daerah yang apabila besarnya lebih besar dari satu ( LQ>1 ) maka sector tertentu pada daerah tersebut memiliki potensi ekspor. Mudrajad Kuncoro menggunakan indeks ini untuk menentukan seberapa jauh suatu industry terkonsentrasi pada suatu kabupaten/kota dibanding industry yang sama di seluruh Indonesia.

3. Indeks Konsentrasi Spasial KSPEC dikemukakan oleh Erlangga Agustino L (2005) yang mengambil wilayah observasi di Jawa Timur.

Pada penelitian ini variabel-variabel yang digunakan terdiri atas variable independen (Y) dan variabel dependen (X). Variabel independen meliputi Indeks konsentrasi spasial yaitu Location Quotient (LQ) dan K SPEC . Indeks tersebut merupakan indeks konsentrasi spasial yang pernah dipakai dalam penelitian terdahulu Mudrajat Kuncoro (2002) dan Erlangga Agustino L (2005) kemudian dalam penelitian kali ini dilakukan komparasi antara indeks konsentrasi spasial tersebut, tujuannya adalah untuk menentukan indeks mana yang lebih akurat menjelaskan factor-faktor konsentrasi spasial. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini antara lain diambil dari factor internal dan eksternal yang mempengaruhi perkembangan suatu industry, yaitu biaya input/bahan baku, skala ekonomi, biaya tenaga kerja, indks persaingan,pendapatan per kapita antar daerah, dan jumlah jumlah investasi asing.

Data dalam penelitian ini berbentuk data panel, yaitu data yang terdiri atas data time series dan cross section. Data time series meliputi tahun 2002 – 2004 sedangkan cross sectionnya terdiri dari kabupaten dan sector. Data industry manufaktur Propinsi Jawa Tengah terdiri dari 9 sektor dan Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah terdiri dari 35 kabupaten/kota sehingga jumlah observasi dalam penelitian ini sebanyak 945. Apabila digambarkan matriks datanya adalah sebagai berikut :

Tabel 1.1 Matriks Data

Tahun Kabupaten/Kota Sektor Y1 Y2 X1 … X6
2002

2004

Cilacap (1)

Kota Tegal (35)

ISIC 1

ISIC 9

ISIC 1

ISIC 9

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi linier Ordinary Least Square (OLS) dan karena bentuk data industry manufaktur dibagi menurut sector per kabupaten maka data tersebut berbentuk panel, sehingga untuk mengetahui nilai variasi dari masing-masing sector per kota/kabupaten maka digunakan juga metode General Least Square (GLS). Pada penelitian terdahulu oleh Mudrajat Kuncoro mengenai konsentrasi spasial digunakan juga metode OLS dengan variable dummy (Least Square Dummy Variabel), namun pada penelitian ini dilakukan komparasi antara metode OLS dan GLS. Melalui metode OLS sepeti pada penelitian terdahulu nilai variasi dari masing-masing sector dan kabupaten harus dihitung terlebih dahulu, namun dengan metode GLS nilai variasi untuk masing-masing sector dan kabupaten sudah dapat diketahui dan langsung dapat dibaca melalui output regresi.

Setelah melalui uji asumsi klasik diperoleh koefisien hasil regresi sebagai berikut :

Tabel 1.2 Hasil Ouput Regresi Faktor – factor Yang Mempengaruhi Konsentrasi Spasial Industri Manufaktur Di Propinsi Jawa Tengah Tahun 2002-2004

Variabel Independen Variabel Dependen (Y) KSPEC Variabel Dependen (Y) LQ
Metode OLS Metode GLS Metode OLS Metode GLS
Konstanta

BIaya Imput/bahan baku (X1)

Skala Ekonomi (X2)

Biaya Tenaga Kerja ( X3)

Indeks Persaingan (X4)

Pendapatan Per Kapita (X5)

Jumlah Investasi asing (X6)

0,026261

(9,589683)*

0,0000000000817

(4,211827)*

0,0000198

(2,784741)*

-0,000000000000478

(-2,371686)*

0,000931

(2,904390)*

-0,0000000000032

(-4,140874) *

0,002953

(0,267020)

0,025562

(7,484027)*

0,0000000000613

(15,326)*

0,0000185

(21,24902)*

0,000000000000462

(-0,3871246)

0,000461

(1,787868)

-0,00000000000237

(-3,473131)*

0,006519

(1,608378)

0,020108

(3,218141)*

0,00000213

(2,698263)*

0,002508

(5,823527)*

0,000919

(13,99022)*

-0,026697

(-3,428713)*

2,665439

(0,981128)

-3,483941

(-1,725537)

0,031833

(2,040386)*

0,00000195

(6,334484)*

0,002279

(8,670770)*

0,000191

(17,023881)*

-0,025151

(-3,301584)*

0,000751

(4,063494)*

-3,377691

(-0,180306)

Cross Section Tidak Ya Tidak Ya
Adjusted R2
Jumlah Observasi

Durbin Watson

F Hitung

R2 = 0,792

945

1,982

167,332

R2 = 0,794

945

2,079

R2 =0,896

945

1,893

R2 = 0,897

945

2,024

Sumber : Output Regresi

*= Signifikan pada α = 5 %

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan per kapita mempunyai pengaruh yang signifikan, hal ini sesuai dengan teori Krugman (1991) bahwa dampak pasar domestic terhadap lokasi industry bahwa semakin padat penduduk suatu daerah akan menarik konsentrasi produksi manufaktur. Sehingga dengan demikian peningkatan pendapatan per kapita suatu daerha akan mendorong terkonsentrasinya industry manufaktur manufaktur pada daerah tersebtu khususnya industry yang berorientasi pada pasar.

Dari hasil penelitian yang menggunakan metode GLS dan OLS diperoleh output yang berbeda, dengan metode OLS output yang diperoleh menunjukkan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen baik secara parsial ataupun secara keseluruhan, metode tersebut tidak dapat menampilkan besarnya nilai variasi antar sector industry per kabupaten. SEdangkan dengan metode GLS dapat diketahui secara otomatis nilai variasi antar sector per kabupaten yang dapat dilihat dari hasil ouput regresi. Sedangkan ditinjau dari indicator konsentrasi spasial yang berbeda, penelitian ini memberikan hasil bahwa indikator LQ mempunyai nilai yang lebih besar untuk dijelaskan oleh factor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi spasial seperti yang diungkapkan pula dalam penelitian terdahulu oleh Mudrajad Kuncoro (2002) hal ini ditunjukkan dengan besarnya Adusted R2 sebesar 0,896 dan 0,897 dengan metode GLS sedangkan untuk variabel dependen K SPEC adjusted R2 yang diperoleh sebesar 0,792 dan 0,794 dengan metode GLS. LQ selain telah digunakan sebagai dasar pertimbangan awal dan bersifat sementara untuk mencari dan mendorong industry lebih lanjut (Isard, 1960), LQ juga dapat menunjukkan apakah suatu daerah dapat memenuhi kebutuhannya sendiri (self sufficient), mengimpor atau mengekspor produk (Malecki, 1991).

Daftar Pustaka

Agus Sugiono, 2001, “Penerapan Modul Neoklasik Untuk Pertumbuhan Regional DI Indonesia”, FE UGM Yogyakarta.

Algifari, 2000, “Analisis Regresi Teori, Kasus, dan Solusi”, BPFE, Yogyakarta

Amstron Aiginer, K. and Hansberg,E, 2003, “Specialization Versus Concentration : A Notes Of Theory And Evidence,” SIEPR Working Paper.

BPS (Berbagai Edisi), “PDRB Jawa Tengah Berdasarkan Kabupaten/Kota,”BPS

Djalal Nachrowi, 2002, “Penggunaan Teknik Ekonometri”, Edisi REvisi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Erlangga Agustino Landiyanto, 2005, “Spesialisasi Konsentrasi Spasial Pada Sektor Industri Manufaktur Di Jawa Timur,”Jurnal Ekonomi Pembangunan Indonesia, Vol 5 No 2 Januari FE UNDIP

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: